Minggu, 29 September 2013

ANALISIS SISTEM INFORMASI PRODUKSI TAS DAN SEPATU ELIZABETH

Diposting oleh Unknown di 05.25 0 komentar

. Pendahuluan

Banyak perusahaan-perusahaan nasional yang tengah menghadapi saingan-saingannya dari perusahaan multinasional. Ketakutan tersebut memang berdasar. Perusahaan-perusahaan multinasional sering datang dengan strategi yang sudah terasah belasan atau puluhan tahun, reputasi bagus yang sulit untuk ditaklukkan, dan SDM dan sistem perusahaan berkelas dunia. Ketakutan tersebut memang perlu untuk menjaga kewaspadaan, tetapi ketakutan tersebut tidak perlu berlebihan juga. Memang benar, raksasa-raksasa multinasional tersebut memiliki hampir semua sumber daya yang didambakan perusahaan lokal. Namun sering mereka tidak mampu menggunakan keunggulan mereka secara maksimal di lingkungan negara-negara berkembang.
Sebut saja efisiensi logistik. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia yang lalu lintasnya masih tidak karuan dengan infrastruktur yang sering di bawah standar, sistem informasi logistik yang mampu memprediksi tibanya kiriman dalam hitungan menit tidak bisa diterapkan di sini. Ini belum termasuk kondisi daerah pedalaman dan kepulauan Indonesia. Pasar Indonesia yang heterogen juga menyulitkan metode riset pasar yang terasah untuk negara-negara maju. Banyaknya jumlah penduduk miskin dan berpendidikan rendah membuat pesan pemasaran harus diadaptasi sesuai tingkat pendidikan mereka. Dalam konteks ini, para pemain lokal sering sudah mendapatkan pengetahuan tersebut secara tacit, sementara para pemain multinasional memerlukan waktu untuk merubah strategi dan paradigma mereka. Kelebihan pemain lokal dan kekurangan perusahaan multinasional tersebut seharusnya dipergunakan secara maksimal oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri.
Hal ini juga diterapkan oleh perusahaan Sepatu dan Tas yang Nama perusahaannya bernama Elizabeth yang diambil dari nama istri si pemilik perusahaan. Perusahaan ini terletak di daerah bandung tepatnya di Jalan Otto Iskandardinata, Bandung. Lalu, dicabang yang kedua di Jalan Cihampelas, dan di cabang ketiga dilantai lima di Jalan Ibu Inggit Garnasih perusahaan ini bergerak di bidang Produk sepatu dan Tas.

II.         Analisi Produk

A.  Label Produk

Begitu produksinya jadi pilihan pasar, merek pun ditempelkan. Handoko bernama asli Lie Koen Poe, memakai nama istrinya sendiri, Elizabeth, untuk produksi tas tersebut. Pada 1 Januari 1968 nama itu didaftarkan sebagai merek dagang pada Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merk, Departemen Hukum dan HAM.

B.  Kualitas dan Analisi Produk

Selain karena desainnya kreatif, kualitas dan jenis bahan serta mutu jahitannya juga terpelihara. Lagi pula, tas harga made in Elizabeth terbilang terjangkau, antara Rp 20.000 hingga Rp 200.000. seperti ditirukan Dinny Nurhayati, Public Relations Elizabeth. Kiat Elizabeth mempertahankan kualiatas cukup unik. Selain mendesain sendiri, ia juga bertindak sebagai tester. Mengikuti selera kaum hawa yang doyan mengikuti perkembangan, ia memilih sendiri bahan yang enak dan nyaman dipakai. Karena tiap produksinya dipersepsikan untuk dipakai sendiri,maka sebelum diluncurkan ke pasar Elizabeth terlebih dahulu memakai sendiri. Elizabeth agaknya sukses dengan prinsip itu. Ia pun mampu berkembang di tengah persaingan pasar tas yang makin ramai. Baik produksi dalam negeri maupun tas-tas produk impor yang kini membanjiri pasar.

C.  Kesesuaian Harga

Harga Produk tas dan Sepatu dari perusahaan Elizabeth sangat bersaing dengan desainnya kreatif, kualitas dan jenis bahan serta mutu jahitannya juga terpelihara. Lagi pula, tas harga made in Elizabeth terbilang terjangkau, antara Rp 20.000 hingga Rp 200.000. sehingga semia kalangan dapat menjangkaunya baik dari kalangan kecil menengah bisa menikmati produk dari perusahaan ini

D.  Promosi

Promosi yang digunakan untuk memasarkan produk ini salah satunya dengan promosi lewat jalur Internet dengan target pasar sampai keluar negeri baik yang memasangkan sebagian harga barang yang dijual beserta foto-foto contoh dari produk yang akan di pasarkan dengan kualitas expor, perusahaan ini juga menerima orderan tas dan sepatu yang ingin dibuat atau diambil dari yang sudah ada, promosi yang digunakan lagi adalah dengan memasang iklan-iklan ke media lokal karena biaya promosi lebih murah

E.  Distribusi

Untuk memenuhi toko dan pesanan, akhirnya Elizabeth membangun sebuah pabrik di kawasan Kopo, Bandung, dengan ratusan karyawan. Maka, selain membuka 20 gerai di tujuh provinsi di Tanah Air, sekitar 5.000 desain Elizabbeth kemudian merambah ke pasar Hong Kong, Singapura, Belanda, Arab Saudi, Jepang, Jerman, Malaysia, Kuwait, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat.

F.  Prospek

Prospek perusahaan Elizabeth ini memiliki prospek lebih besar lagi kalau perekonomian yang ada di indonesia lebih baik dari sekarang yang agak sulit untuk menexpor barang keluar negeri namun pasar dalam negeri lebih terbuka lebar untuk produk-produk dari perusahaan Elizaberth karena tas dan sepatu produksi Elizabeth digemari ibu-ibu dan remaja putri kalangan menengah atas yang merupakan target pasar yang sangat potensial

III.         Penutup

Perusahan ini sangat potensial dalam pasar lokal maupun pasar luar negeri baik dari kalangan atas maupun kalangan bawah yang masih bisa menjagkau harga produk yang di tawarkan oleh perusahaan ini dan perusahan ini masih harus mengembangkan sayapnya dengan mebuka cabang lagi di luar Negeri karena sudah sudah banyak mengexpor keluar negeri yang merupakan potensi pasar yang sangat tinggi untuk di gali dan memperoleh keutungan yang lebih besar dari yang sekarang.


Referensi :

Jumat, 31 Mei 2013

PENALARAN INDUKTIF

Diposting oleh Unknown di 17.46 0 komentar
PENALARAN DEDUKTIF

Pengetian penalaran deduktif
Penalaran deduktif adalah metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

Faktor – faktor penalaran deduktif :
1. Pembentukan Teori
2. Hipotesis
3. Definisi Operasional
4. Instrumen
5. Operasionalisasi

Jenis penalaran deduktif yang menarik kesimpulan secara tidak langsung yaitu:


1. Silogisme Kategorial
Silogisme Kategorial : Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Silogisme kategorial disusun berdasarkan klasifikasi premis dan kesimpulan yang kategoris. Konditional hipotesis yaitu : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya Menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen. Premis yang mengandung predikat dalam kesimpulan disebut premis mayor, sedangkan premis yang mengandung subjek dalam kesimpulan disebut premis minor.
 
Rumus :
Premis umum : Premis Mayor (My)
Premis khusus : Premis Minor (Mn)
Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)

Contoh :
1) Semua buruh adalah manusia pekerja
(2) Semua tukang batu adalah buruh
(3) Jadi, semua tukang batu adalah manusia pekerja.

Kaedah- kaedah dalam silogisme kategorial adalah :
1. Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
2. Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan
3. Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4. Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negative.
5. Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
6. Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
7. Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
8. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

2. Silogisme Hipotesis
Silogisme Hipotesis : Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Menurut Parera (1991: 131) Silogisme hipotesis terdiri atas premis mayor, premis minor, dan kesimpulan. Akan tetapi premis mayor bersifat hipotesis atau pengadaian dengan “ jika …” konklusi tertentu itu terjadi, maka kondisi yang lain akan menyusul terjadi. Premis minor menyatakan kondisi pertama terjadi atau tidak terjadi.
Konditional hipotesis : bila premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Bila minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.

3. Silogisme Alternatif
Silogisme Alternatif : Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Sedangkan proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.
Atau
Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
Premis Minor: Ayah ada di kantor
Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.

4. Entimen

Silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan .
Entimen atau Enthymeme berasal dari bahasa Yunani “en” artinya di dalam dan “thymos” artinya pikiran adalah sejenis silogisme yang tidak lengkap, tidak untuk menghasilkan pembuktian ilmiah, tetapi untuk menimbulkan keyakinan dalam sebuah entimem, penghilangan bagian dari argumen karena diasumsikan dalam penggunaan yang lebih luas, istilah "enthymeme" kadang-kadang digunakan untuk menjelaskan argumen yang tidak lengkap dari bentuk selain silogisme.
Menurut Aristoteles yang ditulis dalam Retorika, sebuah "retorik silogisme" adalah bertujuan untuk pembujukan yang berdasarkan kemungkinan komunikan berpendapat sedangkan teknik bertujuan untuk pada demonstrasi. Kata lainnya, entimem merupakan silogisme yang diperpendek.

     CONTOH PARAGRAF DEDUKTIF

Chairil Anwar terkenal sebagai penyair. Ia disebut penyair yang membawa pembaharuan dalam puisi. Ada yang mengatakan dia sebagai seorang individualis. Ada yang menilai bahwa ia seorang yang kurang bermoral dan plagiat karena ada sebagian kecil dalam gubahannya merupakan jiplakan dari puisi asing. Dalam sajak-sajaknya yang dikumpulkan dalam "Deru Campur Debu" memperlihatkan adanya perbedaan bentuk, corak, gaya, dan isi. Tanggapan orang terhadap Chairil berbeda-beda. Namun, bagaimanapun ia tetap seorang penyair besar yang membawa kesegaran baru dalam bidang puisi pada 1945


Sumber :
http://zafnatpaneyah.blogspot.com/2011/10/pengertian-penalaran-deduktif.html

Senin, 27 Mei 2013

KARYA ILMIAH

Diposting oleh Unknown di 17.55 0 komentar

KARYA ILMIAH

SEPUTAR PENDIDIKAN SEKOLAH DASAR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pendekatan pembelajaran yang merupakan tuntutan kurikulum tingkat satuan pendidikan belum dilaksanakan secara maksimal. Guru masih sering melaksanakan kegiatan pembelajaran Matematika secara murni mata pelajaran dan terpisah dari mata pelajaran lain. Kegiatan pembelajaran mata pelajaran Matematika hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan Matematika tanpa mengaitkannya dengan mata pelajaran lain. Pembelajaran seperti ini mengakibatkan siswa terjebak dalam rutinitas yang membosankan sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik dan motivasi belajar siswa pun rendah. Siswa juga belum terlibat secara aktif dalam menemukan konsep yang dipelajari, karena pembelajaran lebih banyak terpusat pada guru. Selain itu, pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah kurang mengembangkan siswa untuk berfikir holistik karena siswa kurang mengetahui keterkaitan konsep dari beberapa mata pelajaran, sehingga pengalaman yang diperoleh sebagai hasil belajar menjadi kurang bermakna. Pada akhirnya berimplikasi pada rendahnya prestasi belajar siswa.

Berkaitan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan dan seiring bergulirnya kurikulum tingkat satuan pendidikan, pembelajaran yang dikemas dan dirancang guru harus mengoptimalkan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah digariskan. Untuk mencapai hal tersebut maka guru harus dapat menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan psikologis siswa SD kelas I. Pada periode ini, siswa masih memandang dunia sebagai sesuatu yang terpadu dan konkrit, sehingga pendekatan pembelajaran yang digunakan di kelas ini harus bersifat tematis dan integratif. Dengan pembelajaran secara tematis dan integratif diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna dan utuh bagi siswa, serta dapat mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal. Dan pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya prestasi belajar Matematika.

Pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan pada awal semester genap terdapat kesenjangan jika dibandingkan dengan tuntutan pembelajaran ideal sesuai dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang menekankan penguasaan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Kesenjangan tersebut antara lain: pembelajaran yang telah dilaksanakan selama ini belum mampu membangkitkan motivasi belajar yang tinggi, belum menunjukkan keterlibatan siswa secara aktif dalam menemukan konsep yang dipelajari, serta kurang dapat memberikan pengalaman yang bermakna dan utuh kepada siswa. Berdasarkan uraian di atas, maka mendorong penulis untuk mengeliminir kesenjangan-kesenjangan yang menjadi permasalahan dengan menerapkan pendekatan pembelajaran tematik pada pembelajaran Matematika. Oleh karena itu pada karya tulis ilmiah ini menulis mengenai “Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Melalui Pembelajaran Tematik pada Siswa Kelas I SD”.

B.     Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka secara spesifik masalahnya dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah melalui pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar Matematika siswa kelas I SD”

C.    Tujuan Penelitian

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar Matematika. Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar Matematika siswa kelas I SD.

D.    Manfaat Penelitian

1.      Manfaat Teoretis

Mendapatkan teori baru tentang peningkatan prestasi belajar Matematika melalui pembelajaran tematik pada siswa kelas I sekaligus sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya.

2.      Manfaat Praktis

 a.      Bagi Guru
Memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Matematika kelas I SD dengan model pembelajaran tematik.

b.      Bagi Instansi Terkait
Merupakan masukan dalam mengambil kebijakan yang dapat menunjang peningkatan mutu dan efektivitas pembelajaran Matematika  di sekolah.

BAB II
LANDASAN TEORI

1.      Hakikat Prestasi Belajar Matematika

a.       Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar menurut Sutratinah Tirtonegoro (1988: 43) adalah “Penilaian hasil usaha kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat yang dapat mencerminkan hasil yang sudah dicapai oleh setiap anak dalam periode tertentu”. Sedangkan menurut Winkel (1991: 60) yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah “Bukti keberhasilan usaha yang dapat dicapai seseorang setelah memperoleh pengalaman belajar atau mempelajari sesuatu”. Senada dengan pendapat kedua ahli tersebut, Anton Sukarno (1994:16) menyatakan bahwa “Prestasi belajar adalah suatu hasil maksimal yang diperoleh dengan usahanya dalam rangka mengaktualisasikan dan mempotensikan diri lewat belajar”. Dari ketiga pendapat di atas, maka yang dimaksud prestasi belajar adalah penilaian hasil usaha kegiatan yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka, huruf maupun kalimat dalam rangka mengaktualisasikan dan mempotensikan diri lewat belajar. Dalam penelitian ini yang dimaksud prestasi belajar adalah suatu angka yang dicapai oleh masing-masing siswa dalam periode waktu tertentu sebagai hasil dari belajarnya, yang merupakan perwujudan dari potensi dirinya.

b.      Pengertian Matematika

Menurut Djauzak Ahmad (1994: 13) “Matematika adalah salah satu ilmu dasar dalam kehidupan sehari-hari yang berguna memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dewasa ini”.
Sedangkan menurut Johnson dan Myklebust seperti dikutip Mulyono Abdurrahman (1999: 252), “Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengeskpresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan, sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir”. Senada dengan pendapat tersebut, Kline dalam Mulyono Abdurrahman (1999: 252) mengemukakan bahwa “Matematika merupakan bahasa simbolis dan ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak melupakan cara bernalar induktif”.
Dari pendapat-pendapat di atas, berarti bahwa Matematika adalah salah satu ilmu dasar dalam kehidupan sehari-hari, yang merupakan bahasa simbolis untuk memudahkan manusia berfikir dengan menggunakan cara bernalar deduktif dan induktif. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan Matematika adalah salah satu ilmu dasar yang berguna untuk memahami dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memudahkan manusia berfikir dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

c.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik berasal dari dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali artinya dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing (Moh Uzer Usman & Lilis Setiawati, 1993: 9).
Adapun faktor-faktor yang dimaksud meliputi hal-hal sebagai berikut:

1)      Faktor yang berasal dari diri sendiri (internal)

a)      Faktor jasmani (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang termasuk faktor ini adalah panca indera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.

b)      Faktor psikologi, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, terdiri atas:

(1)   Faktor intelektif yang meliputi faktor potensial, yaitu kecerdasan dan bakat serta faktor kecakapan nyata, yaitu prestasi yang dimiliki.
(2)   Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minta kebutuhan, motivasi, emosi, dan penyesuaian diri.

c)      Faktor kematangan fisik maupun psikis.

2)      Faktor yang berasal dari luar luar diri (eksternal)

a)      Faktor sosial yang terdiri atas:
(1)   Lingkungan keluarga.
(2)   Lingkungan sekolah.
(3)   Lingkungan masyarakat.
(4)   Lingkungan kelompok.

b)      Faktor budaya, seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, tehnologi, dan kesenian.

c)      Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.

d)     Faktor lingkungan spiritual dan keagamaan.

Demikian, beberapa faktor internal dan eksternal yang berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi prestasi belajar siswa.

d.      Pembelajaran Matematika
Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar dapat memilih materi yang mampu menumbuhkembangkan kemampuan dan membentuk pribadi siswa, sehingga mampu mengikuti perkembangan IPTEK. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar tidak dapat terlepas dari ciri Matematika itu sendiri yaitu memiliki sifat abstrak dan berpola deduktif dan konsisten.

Karenanya kegiatan belajar dan mengajar Matematika seyogyanya juga tidak disamakan begitu saja dengan ilmu yang lain, karena peserta didik yang belajar Matematika itupun berbeda-beda kemampuannya, maka kegiatan belajar mengajar harus tetap memperhatikan adanya perbedaaan individu dan karakteristik siswa. (Djauzak Ahmad, 1994: 13) Selanjutnya, Djauzak Ahmad (1994: 17) menyatakan bahwa “Tujuan pembelajaran Matematika secara umum adalah mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan dalam kehidupan melalui latihan dan dasar pemikiran logis, rasional, kritis, cermat dan efektif”. Di samping itu siswa diharapkan mampu menggunakan Matematika dalam kehidupan sehari-hari dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
Dalam Kurikulum 2004 (2003: 6) juga disebutkan “Tujuan pembelajaran Matematika adalah melatih dan menumbuhkan cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif, dan konsisten. Serta mengembangkan sikap gigih dan percaya diri sesuai dalam menyelesaikan masalah”.

Sedangkan Moch Ichsan (2003: 4) merumuskan tujuan pembelajaran Matematika, sebagai berikut:

1)      Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan ) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.
2)      Menumbuhkan kemampuan siswa yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan Matematika.
3)      Mengembangkan pengetahuan dasar Matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut.
4)      Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.

Tujuan tersebut dianggap telah tercapai apabila siswa telah memiliki sejumlah kemampuan di bidang Matematika. Agar tujuan pembelajaran Matematika tersebut dapat dicapai secara optimal, guru harus dapat menerapkan pendekatan pembelajaran Matematika secara tepat. Moch Ichsan (2003: 8-9) mengemukakan empat macam pendekatan pembelajaran Matematika, yaitu:

1)      Pendekatan belajar aktif (Student Active Learning = SAL)
SAL adalah suatu pembelajaran yang menekankan aktivitas para siswa secara fisik, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang maksimal, baik ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Untuk mengaktifkan siswa dalam belajar, maka guru harus dapat menciptakan suasana yang menggairahkan kegiatan belajar, antara lain dengan menyajikan bahan pelajaran mengesankan dan merangsang daya kreativitas, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan berkesan.

2)      Pendekatan terpadu
Yaitu suatu pendekatan yang mengaitkan mata pelajaran Matematika dengan mata pelajaran lainnya. Dengan mengetahui keterkaitan konsep dari beberapa mata pelajaran, maka akan dapat memberi pengertian kebermaknaan, sehingga siswa lebih mantap dalam memahami suatu konsep.

3)      Pendekatan konstruktivis
Yaitu merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran di kelas melalui tiga fase, yaitu: fase eksplorasi, fase pengenalan konsep dan aplikasi konsep untuk mencapai kebermaknaan pemahaman.

4)      Pendekatan realistik (Realistic Mathematics Education = RME)
Yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang real bagi siswa, menekankan keterampilan “process of doing mathematics”. Pada pendekatan ini peran guru tidak lebih dari seorang fasilitator, moderator, atau evaluator, sementara siswa berfikir, mengkomunikasikan “reasoning”nya, melatih nuansa demokrasi dengan menghargai pendapat orang lain.

Pembelajaran tematik sebagai pendekatan baru dianggap penting untuk dikembangkan. Hadi Mulyono (2000: 13) memberikan pengertian pembelajaran tematik dapat dilihat sebagai:

1)      Pembelajaran yang beranjak dari satu tema tertentu sebagai pusat perhatian (center of interest) yang digunakan untuk memahami gejala-gejala dan konsep lain yang berasal dari bidang studi yang bersangkutan maupun dari bidang studi lainnya.
2)      Suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai bidang studi yang mencerminkan dunia nyata di sekeliling dan dalam rentang kemampuan dan perkembangan anak.
3)      Suatu cara untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan.
4)      Merakit atau menggabungkan sejumlah konsep dalam beberapa bidang studi yang berbeda, dengan harapan anak akan belajar dengan lebih baik dan bermakna.

Menurut Ujang Sukandi (2003: 108) “Pembelajaran tematis dimaksudkan sebagai suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang direncanakan dengan membuat keterpaduan materi mata pelajaran dalam satu tema”.
Sedangkan Moch Ichsan (2003: 9) menyatakan bahwa “Pembelajaran Matematika model Webbed atau pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang mengaitkan beberapa mata pelajaran melalui suatu tema tertentu”.

b.      Karakteristik Pembelajaran Tematik
Berdasarkan hakikat pembelajaran tematik, Tim Pengembang PGSD (2001: 58-59) mengemukakan beberapa ciri atau karakteristik pembelajaran sebagai berikut:

1)      Holistik
Suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran tematik diamati dan dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak. Pembelajaran terpadu memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi. Pada gilirannya nanti, hal ini akan membuat siswa menjadi lebih arif dan bijak di dalam menyikapi atau menghadapi kejadian yang ada di hadapan mereka.

2)      Bermakna
Pengkajian suatu fenomena dari berbagai macam aspek seperti diterangkan di atas, memungkinkan terbentuknya semacam jalinan antar skemata yang dimiliki siswa.

3)      Otentik
Pembelajaran tematik juga memungkinkan siswa memahami secara langsung konsep dan prinsip yang ingin dipelajari. Ini karena mereka dalam belajarnya melakukan kegiatan secara langsung. Mereka memahami dari hasil belajar sendiri, hasil dan interaksinya dengan fakta dan peristiwa, bukan sekedar hasil pemberitahuan guru
.
4)      Aktif
Pembelajaran tematik pada dasarnya dikembangkan dengan berdasar kepada pendekatan diskoveri inkuiri. Siswa perlu terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga proses evaluasinya. Pembelajaran tematik pada dasarnya dilaksanakan dengan mempertimbangkan hasrat, minat dan kemampuan siswa.

Oleh karena itu, pembelajaran tematik bukan semata-mata merancang aktivitas-aktivitas dari masing-masing bidang studi yang ada kaitannya. Meskipun hal itu bisa saja dilakukan, hal ini bisa tidak sesuai dengan landasan filosofis, psikologis dan praktis dari pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik bisa saja dikembangkan dari suatu tema yang disepakati bersama dengan melirik aspek-aspek kurikulum yang bisa dipelajari melalui pengembangan tema tersebut.

BAB III
PEMBAHASAN

A.    Deskripsi Kondisi Awal
Guru masih sering melaksanakan kegiatan pembelajaran Matematika secara murni mata pelajaran dan terpisah dari mata pelajaran lain. Kegiatan pembelajaran mata pelajaran Matematika hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang berhubungan dengan Matematika tanpa mengaitkannya dengan mata pelajaran lain. Pembelajaran seperti ini mengakibatkan siswa terjebak dalam rutinitas yang membosankan sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik dan motivasi belajar siswa pun rendah. Siswa juga belum terlibat secara aktif dalam menemukan konsep yang dipelajari, karena pembelajaran lebih banyak terpusat pada guru. Selain itu, pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah kurang mengembangkan siswa untuk berfikir holistik karena siswa kurang mengetahui keterkaitan konsep dari beberapa mata pelajaran, sehingga pengalaman yang diperoleh sebagai hasil belajar menjadi kurang bermakna. Pada akhirnya berimplikasi pada rendahnya prestasi belajar siswa.

B.     Perencanaan Tindakan
Dengan berpedoman pada standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial, penulis melakukan langkah-langkah untuk merencanakan model pembelajaran tematik, antara lain:

a.       Membuat/memilih tema.
b.      Melakukan analisis kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator yang sesuai dengan tema.
c.       Membuat pengelompokan jaringan indikator.
d.      Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran tematik berdasarkan jaringan indikator yang telah dibuat.

Kegiatan awal untuk setiap pertemuan memuat doa bersama, absensi siswa dan appersepsi. Tahap appersepsi berupa cerita atau menyanyi bersama yang bertujuan untuk memusatkan perhatian siswa dan mengarahkan minat siswa pada tema yang akan dibicarakan.
Kegiatan inti adalah kegiatan pokok yang dilaksanakan dalam pembelajaran. Sedangkan kegiatan akhir merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri satu pertemuan, meliputi kegiatan evaluasi dan memberikan tindak lanjut berupa tugas rumah.

C.    Pelaksanaan Tindakan
Dalam tahap ini guru menerapkan model pembelajaran tematik sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. Tindakan yang dilaksanakan meliputi kegiatan-kegiatan selama proses pembelajaran antara lain kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
Kegiatan pembelajaran untuk setiap pertemuan diawali dengan kegiatan awal berupa doa bersama, absensi siswa dan appersepsi. Dilanjutkan dengan kegiatan inti yang pada setiap pertemuannya menyampaikan 1 indikator Matematika sebagai core (inti pembelajaran).

Adapun contoh indikator Matematika dengan Kompetensi Dasar “Melakukan penjumlahan dan pengurangan bilangan dua angka” yang menjadi core (inti pembelajaran) pada setiap pertemuan adalah :

a.       Menjumlah dua bilangan tanpa teknik menyimpan, bilangan sampai 100, untuk pertemuan ke-1.
b.      Menjumlah dua bilangan dengan teknik menyimpan, bilangan sampai 100, untuk pertemuan ke-2 dan ke-3.
c.       Mengurangi dua bilangan tanpa teknik meminjam, bilangan sampai 100, untuk pertemuan ke-4.
d.      Mengurangi dua bilangan dengan teknik meminjam, bilangan sampai 100, untuk pertemuan ke-5 dan ke-6.
Indikator-indikator Matematika tersebut dikaitkan dengan indikator mata pelajaran lain yang sesuai dengan tema, yang tertulis dalam RPP.

Pembelajaran pada setiap pertemuan selalu diakhiri dengan evaluasi dan memberikan tindak lanjut berupa tugas portofolio. Dan pada akhir pertemuan dilaksanakan ulangan harian untuk mengetahui prestasi belajar Matematika.

D. Refleksi
Pembelajaran dengan meninggalkan pembelajaran konvensional akan dapat menumbuhkembangkan minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran. Siswa dapat lebih menerima pengajaran yang dilakukan oleh guru karena sifatnya yang bervariasi dan konkret. Selain itu guru sebagai fasilitator dan siswa sebagai pembelajar akan lebih mudah tercapai karena motivasi siswa tinggi keaktifan siswa meningkat. Hal ini sesuai tuntutan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang maksimal.

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan penulisan karya imiah dengan pembelajaran tematik dalam pembelajaran Matematika pada kelas I dapat disampaikan kesimpulan sebagai berikut:
1.      Model pembelajaran tematik dalam pembelajaran Matematika dilakukan dengan mengaitkan mata pelajaran Matematika dengan mata pelajaran lainnya melalui konsep-konsep yang dapat dipadukan dalam naungan tema tertentu.
2.      Dengan pembelajaran tematik dapat meningkatkan prestasi belajar Matematika siswa kelas I.
3.      Dengan menerapkan model pembelajaran tematik dapat meningkatkan peran aktif (pastisipasi) siswa dalam proses pembelajaran.

B.     Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka ada beberapa saran yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan sekaligus sebagai bahan uraian penutup penelitian ini, antara lain:
1.      Bagi Sekolah
Hendaknya mengupayakan pengadaan berbagai alat peraga Matematika khususnya untuk kelas rendah (kelas 1 dan 2), baik droping maupun swadaya sekolah, sehingga lebih menunjang dalam penanaman konsep-konsep Matematika secara lebih nyata sekaligus meningkatkan aktivitas belajar siswa dan memberdayakan model pembelajaran tematik.
2.      Bagi Guru
Hendaknya mempersiapkan secara cermat perangkat pendukung pembelajaran tematik dan fasilitas belajar yang diperlukan, karena sangat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi pembelajaran yang pada akhirnya berpengaruh pada proses dan hasil belajar Matematika siswa


DAFTAR PUSTAKA

Anton Sukarno. 1994. Efektifitas Sistem Pengajaran Pelayanan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Surakarta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta: Puskur Balitbang.
Djauzak Ahmad. 1994. Pedoman Proses Belajar Mengajar di Sekolah Dasar. Jakarta: Balai Pustaka.
Hadi Mulyono. 2000. Pembelajaran Terpadu. Surakarta: Sebelas Maret University Pers.
Hartono & Edy Legowo. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Depdiknas.
Moch. Ichsan. 2003. Strategi Belajar Mengajar Matematika di Sekolah Dasar. Semarang: BPG.
Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (Bahan Kajian PKG, MGBS, MGMP). Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyadi HP. 2006. Kajian Teori dan Hipotesis Tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: LPMP Jawa Tengah.
Mulyono Abdurrahman. 1999. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Sutratinah Tirtonegoro. 1988. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya. Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Pengembang PGSD. 2001. Pembelajaran Terpadu. Bandung: Maulana.
Ujang Sukandi, et.al. 2003. Belajar Aktif dan Terpadu: Apa, Mengapa dan Bagaimana?. Surabaya: Duta Graha Pustaka.
Winkel W.S. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.


Sumber Refrensi : http://www.dykrullah.com/2013/04/contoh-karya-ilmiah-bertema-pendidikan.html#ixzz2WdA9Jzy6

Rabu, 17 April 2013

TINGKAT KERUSAKAN AKIBAT GEMPA DAN TSUNAMI

Diposting oleh Unknown di 07.46 0 komentar


TINGKAT KERUSAKAN BANGUNAN AKIBAT GEMPA DAN TSUNAMI DI KOTA BANDA ACEH 



BAB I


PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Fenomena alam yang terjadi di bumi sering menimbulkan bencana bila terjadi dalam skala yang besar dan luas serta menyentuh kehidupan manusia (Tjasyono, 2003).  Lebih jauh dikemukakan bahwa badai guruh, kekeringan, banjir, siklon tropis, gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami merupakan fenomena alam yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian material.

Posisi geografis Indonesia yang terletak di zona pertemuan lempeng benua merupakan salah satu faktor penyebab atas sering terjadinya bencana alam gempa bumi.  Ketika terjadi dislokasi di zona pertemuan lempeng ba-wah laut, selain terjadi getaran gempa, perpindahan sejumlah besar massa air laut akibat peristiwa ini juga dapat memicu terjadinya tsunami seperti yang baru terjadi pada akhir tahun 2004 di pantai barat Propinsi Nanggroe Aceh  Darussalam.

Walaupun maraknya peristiwa tsunami di pantai barat Propinsi Nanggroe Aceh  Darussalam, bukan berarti peristiwa tersebut baru kali ini terjadi.  Tsunami terbesar yang tercatat di Indonesia terjadi pada saat Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883.  Selanjutnya, sejak tahun 1960-an telah tercatat di beberapa lokasi di seluruh Indonesia.  Pada tahun 1965 tsunami telah melanda daerah Seram, Maluku.  Tahun 1967 di pantai Tinambung, Sulawesi Selatan, diikuti pada tahun 1968 di pantai Tam-bu, Sulawesi Tengah, tahun berikutnya di pantai Majene, Sulawesi Selatan  terjadi pada tahun 1969.  Di kepulauan Nusa Tenggara Timur terjadi di pantai Sumba pada tahun 1977 dan di pantai Larantuka pada tahun 1982, sedang-kan di pantai Flores terjadi pada akhir tahun 1992.  Di Jawa Timur, di pantai Banyuwangi juga terjadi tsunami pada tahun 1994.  Pada tahun 1996 terjadi pada dua lokasi, yaitu di Palu (Sulawesi Tengah) dan Pulau Biak (Papua).  Dua tahun berikutnya secara berangsur-angsur terjadi di Pulau Taliabu (Maluku) pada tahun 1998 dan di Banggai (Sulawesi Tengah) yang terjadi pada tahun 2000.

Tsunami yang terjadi dari urutan peristiwa di atas yang terakhir kali-nya yaitu pada tanggal 26 Desember 2004 di pantai barat Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.  Gempa bumi bermagnitudo 9.0 di zona subduksi lempeng sepanjang pesisir barat Aceh hingga kepulauan Andaman dan Nicobar (India) telah memicu terbentuknya gelombang tsunami yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang sangat besar (Bappenas, 2005).  Lebih jauh dilaporkan bahwa korban jiwa yang meninggal akibat peristiwa tersebut adalah sebesar 275.950 orang, dengan estimasi total kerugian material sebe-sar 4,0 hingga 4,5 milyar dolar AS.

Salah satu wilayah yang mengalami kerusakan terparah adalah ibu-kota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, yaitu Kota Banda Aceh.  Kota ter-sebut memiliki jumlah penduduk sebesar 230.774 jiwa (BPS,2004).  Selain jumlah penduduk dan pemukiman yang padat, kota tersebut memiliki ham-paran medan yang datar, sehingga korban jiwa yang diakibatkan pada ben-cana tersebut menunjukkan paling besar (30.000 jiwa) dibandingkan dengan daerah kota/ kabupaten lain di wilayah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam (Bakornas, 2005).  Berdasarkan observasi pasca gempa dan tsunami yang dilakukan pada Bulan Januari 2005, diketahui bahwa kerusakan yang terjadi di Kota Banda Aceh sangat parah.

Upaya untuk pemulihan baik melalui rehabilitasi dan rekonstruksi fisik dan infrastruktur wilayah perkotaan tersebut menurut perkiraan yang disebut-kan oleh Bappenas (2005), memerlukan waktu selama 8 tahun. Lebih jauh dikemukakan bahwa upaya pemulihan tersebut paling tidak diperlukan 3 ta-hapan yaitu; (a) tatanan tanggap darurat, yakni pertolongan terhadap korban selamat dan evakuasi terhadap korban meninggal, (b) tatanan rehabilitasi, yakni penyiapan pemulihan sementara dengan membangun permukiman da-rurat, (c) tatanan rekonstruksi, yakni membangun kembali sarana dan prasa-rana perkotaan serta penyiapan permukiman baru. Ketiga tatanan tersebut diawali dengan identifikasi tingkat kerusakan, dan penelusuran kondisi fisik wilayah berdasarkan derajat kerentanannya.

Sebelum peristiwa gempa dan tsunami Desember 2004 lalu, Kota Banda Aceh tengah mempersiapkan diri untuk menjadi kota pelabuhan dan perdagangan utama di Nanggoe Aceh Darussalam.  Hal ini dapat terlihat de-ngan dibangunnya pelabuhan Ulee Lheue yang berstandar internasional se-bagai salah satu penunjang aktivitas ekonomi di kota tersebut.  Untuk mewu-judkan hal tersebut, kajian mengenai kondisi fisik Kota Banda Aceh dan ke-rentanannya terhadap bencana merupakan salah satu hal penting di samping kajian mengenai kondisi sosial dan keamanan.

Mencermati uraian di atas, penelitian ini bermaksud menginformasikan tingkat kerusakan bangunan di Kota Banda Aceh akibat gempa bumi dan tsu-nami berdasarkan beberapa variabel fisik yang diasumsikan memiliki penga-ruh terhadap kerusakan yang terjadi akibat tsunami, yaitu ketinggian, geo-morfologi pantai dan jarak dari pantai.  Informasi tersebut diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam kaitannya dengan rehabilitasi dan rekonstruksi Kota Banda Aceh.



1.2. Masalah


Atas dasar latar belakang seperti yang diuraikan terdahulu, dalam penelitian ini diajukan masalah sebagai berikut :

Bagaimanakah tingkat kerusakan bangunan akibat gempa dan tsunami ber-dasarkan wilayah ketinggian, jarak dari pantai dan menurut unit morfologi pantai di Kota Banda Aceh?


1.3.Batasan
  1. Daerah penelitian adalah daerah administrasi Kota Banda Aceh yang termasuk dalam rayapan gelombang tsunami.
  1. Gempa bumi adalah getaran yang dirasakan di permukaan bumi akibat adanya sumber getaran di dalam bumi, dan dinyatakan dalam satuan skala richter atau MMI (Modified Mercalli Intensity).
  1. Tsunami adalah serangkaian gelombang laut yang besar yang disebab-kan oleh gempa bawah laut, tanah longsor, atau letusan gunung berapi yang berada di sekitar perairan laut dan atau di dalam laut.
  1. Bangunan menurut UU No.28/2002 adalah wujud bangunan yang disebut gedung, yaitu wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya; sebagian atau seluruhnya berada di atas dan/atau di dalam tanah dan/atau air, difungsikan sebagai tempat manusia melaku-kan kegiatan, baik untuk hunian atau tempat tinggal, kegiatan keagama-an, kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan lainnya.
  1. Bangunan dalam penelitian ini diukur dalam satuan luas (ha).
  1. Kerusakan bangunan akibat gempa dan tsunami pada penelitian ini ada-lah kerusakan yang disebabkan baik itu oleh peristiwa gempa maupun tsunami, yang menyebabkan berkurang atau hilangnya fungsi bangunan.  Bangunan rusak yang diteliti adalah bangunan yang terdapat dalam wila-yah rayapan gelombang tsunami, dengan asumsi bahwa kerusakan ba-ngunan disebabkan oleh kedua peristiwa tersebut.
  1. Tingkat kerusakan bangunan adalah derajat kerusakan yang dialami oleh bangunan akibat gempa dan tsunami menurut klasifikasi Bappenas (2005) yang dimodifikasi.  Bangunan yang mengalami kerusakan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu : (a) Bangunan Rusak Total, yakni bangunan hilang dan posisi awal bangunan tidak dapat dikenali lagi, (b) Bangunan Rusak Berat, yakni bangunan tidak seluruh roboh, struktur bangunan patah, miring, dengan kondisi rusak bercampur dengan puing, dan (c) Bangunan Rusak Ringan, yakni bangunan masih berdiri, terkena endapan lumpur.
  1. Wilayah ketinggian dalam penelitian ini adalah titik-titik ketinggian (eleva-si) yang dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu kurang dari 5 m dpl, 5-10 m dpl, 10-15 m dpl dan lebih dari 15 m dpl. 
  1. Morfologi pantai atau bentuk medan pantai adalah kenampakan atau relief muka bumi yang menjadi bagian dalam geomorfologi pantai.


10. Jarak dari pantai adalah jarak yang diukur tegak lurus dari garis pantai menuju ke arah daratan.

11. Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap kondisi eksisting atau fenomena yang ada pada obyek penelitian.

12. Titik observasi lapang adalah titik observasi yang ditentukan secara acak pada wilayah yang mengalami kerusakan.

13. Dokumentasi visual adalah informasi dalam bentuk foto dari titik observasi lapang.


1.4. Metodologi


1.4.1. Variabel dalam penelitian

Variabel dalam penelitian ini meliputi: (a) Tingkat kerusakan bangunan, (b) Wilayah Ketinggian, (c) Jarak dari pantai, dan (d) Morfologi pantai.

1.4.2. Pengumpulan data

Dalam penelitian ini, data yang dikumpulkan dibedakan menjadi dua, yaitu data sekunder dan data primer. Data sekunder adalah data atau infor-masi yang diperoleh dari sumber-sumber baik instansi pemerintah maupun lembaga yang memiliki kewenangan dalam pencatatan atau menginformasi-kan data, sedangkan data primer adalah fakta yang diperoleh dari hasil observasi lapang.

1.4.2.1. Data sekunder

Data sekunder yang dikumpulkan dari instansi atau lembaga terkait meliputi :

(a). Peta, yang meliputi :
  1. Peta wilayah administrasi Kota Banda Aceh skala 1:10.000 bersum-ber dari Bapeda Banda Aceh, tahun 2002.
  1. Peta topografi helai 0236-II Banda Aceh sekala 1:50.000, bersumber dari DITTOP TNI AD Jakarta, tahun 1993.
  1. Digital Elevation Model (DEM) bersumber dari Shuttle Radar Topography Mission (SRTM).
  1. Citra Ikonos Banda Aceh 30 Desember 2004 resolusi 1 m, bersumber dari  http://www.crisp.nus.edu.sg/tsunami/tsunami.html, atas lisensi Centre for Remote Imaging, Sensing and Processing (CRISP) National University of Singapore (Lampiran 15).
  1. Citra Ikonos Banda Aceh 13 Nopember 2003 resolusi 1 m, ber-sumber dari CRISP National University of Singapore.


(b). Data statistik kependudukan dan korban tsunami, yang bersumber dari BPS Kota Banda Aceh Tahun 2004 dan Bakornas Tahun 2005.

(c). Ilustrasi informasi dalam bentuk peta maupun gambar mengenai : (1) peristiwa gempa dan tsunami, (2) geologi dan geomorfologi, (3) fakta wilayah Kota Banda Aceh, dan sebagainya yang dihimpun dari berbagai sumber (terlampir dalam Daftar Pustaka).

1.4.2.2. Data primer

Pendataan lapang (data primer) diperoleh dengan cara pengambilan gambar (potret/foto). Teknik pencuplikan datanya pada titik-titik koordinat yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan citra Ikonos resolusi 1 m2 dengan prosedur sebagai berikut :

(a). Citra Ikonos Kota Banda Aceh dideliniasi berdasarkan rona/warna, ben-tuk, dan ukuran dan dihasilkan 2 kelompok, yaitu wilayah terbangun dan tidak terbangun.

(b). Di wilayah terbangun ditetapkan titik-titik pemotretan sebanyak 30 titik yang mewakili tingkat kerusakan akibat gempa dan tsunami, dengan pertimbangan pada lokasi-lokasi yang dapat dilintasi/dijangkau dengan alat bantu sepeda motor.

(c). Pada setiap titik yang ditetapkan, diambil gambar secara berganda ke empat arah mata angin.

(d). Pada setiap potret yang dikumpulkan, dilakukan interpretasi kondisi kerusakan yang dialami oleh bangunan berdasarkan kriteria kerusakan yang digunakan, kemudian di-plot-kan pada citra Ikonos menurut titik koordinatnya masing-masing.

(e). Penampakan (rona/warna, bentuk, ukuran) yang terlihat pada setiap titik pemotretan yang di-plot pada citra dijadikan sebagai landasan atau acuan dalam melakukan interpretasi citra ikonos untuk membuat peta tingkat kerusakan bangunan akibat tsunami.

1.4.3. Pengolahan data

Data sekunder maupun primer yang telah dikumpulkan dalam penelitian ini diolah ke dalam bentuk peta untuk memudahkan analisa data secara geografis.  Pengolahan data yang dilakukan adalah mengubah data peta maupun citra menjadi data vektor digital untuk memudahkan proses penghitungan jarak dan luas dalam penelitian ini, yang secara skematik digambarkan pada Gambar 1.2, dengan rincian sebagai berikut:

A.  Dijitasi peta administrasi, jaringan jalan dan perairan Kota Banda Aceh, bersumber dari Bapeda Banda Aceh, skala 1:10.000. (Peta 1 dan 2)

B.  Dijitasi peta wilayah ketinggian Kota Banda Aceh yang diolah dari Digital Elevation Model yang bersumber dari Shuttle Radar Topography Mission. Ketinggian dibedakan menjadi 4 kelas, yaitu kurang dari 5 m dpl, 5-10 m dpl, 10-15 m dpl dan lebih dari 15 m dpl (Peta 3).

C.  Dijitasi unit-unit morfologi pantai Kota Banda Aceh melalui interpretasi citra Ikonos dan interpretasi peta topografi dalam mengidentifikasi unit-unit geomorfologi pantai.  Unit geomorfologi yang diidentifikasi adalah barrier islandbarrier beachspit, gosong, laguna, salt marshjetty, dan tanggul pantai (Peta 4).  Deliniasi unit-unit morfologi pantai dilakukan dengan menggunakan teknik interpretasi visual, yaitu melalui pengamatan rona, warna, tekstur, bentuk, asosiasi, dan bayangan pada citra Ikonos 2003.  Kemudian dilakukan proses cross checking dengan peta topografi tahun 1993, dengan parameter-parameter identifikasi sebagai berikut:
  1. barrier island merupakan pulau kecil memanjang yang terbentuk oleh endapan pasir gisik dan guguk pasir sejajar dengan daratan yang dipisahkan oleh laguna (Setiyono,1996). Keberadaannya diidentifikasi melalui bentuknya yang sejajar garis pantai dan asosiasi dengan lingkungan sekitarnya, di mana barrier island atau pulau penghalang merupakan endapan yang terpisah dari dataran utama oleh laguna. Kenampakannnya dikenali dengan adanya jembatan yang menghu-bungkan barrier island dengan dataran utama (main land).
  1. barrier beach atau pantai penghalang dicirikan sebagai beting pasir tunggal yang memanjang sejajar garis pantai, dikenali melalui peng-amatan bentuk dan rona/ warna, di mana barrier beach diidentifikasi melalui bentuknya yang pipih dan memanjang, serta melalui keber-adaan pasir yang terlihat pada citra memancarkan warna abu-abu cerah serta bertekstur kasar.
  1. spit diidentifikasi melalui bentuknya yang meliuk menyerupai kait.  Spit biasanya ditemui di muara-muara sungai (Setiyono, 1996), dikenali pada citra Ikonos 2003 melalui bentuknya dan ronanya yang keabu-abuan (endapan pasir) bertekstur kasar. Spit pada umumnya berpang-kal pada dataran utama atau pada barrier island dan barrier beach.
  1. laguna adalah tubuh perairan dangkal di tepi pantai yang dihubung-kan dengan laut oleh alur sempit, atau tubuh perairan laut dangkal yang terletak di antara pulau penghalang atau terumbu penghalang dengan daratan pantai.  Laguna merupakan zona atau daerah berben-tuk kolam yang tidak pernah mengalami kekeringan walaupun pada saat surut rendah. Umumnya Laguna terletak berdekatan dengan daratan pulau dan dikelilingi oleh rataan terumbu serta terlindung dari keadaan fisik laut terbuka (Setiyono, 1996).  Indikator lainnya adalah terdapatnya barrier yang membatasi laguna dengan lautan lepas.
  1. Salt Marsh, atau rawa paya merupakan mintakat pinggiran pantai yang tertutup gambut dan terbentuk pada tingkat pasang tinggi di mana se-belumnya adalah rataan pasang (Setiyono, 1996).  Salt marsh berada di belakang barrier atau penghalang, di mana berair tenang dan biasa-nya ditumbuhi oleh tanaman bakau.  Keberadaan morfologi salt marsh di pesisir Kota Banda Aceh sudah sangat sedikit, karena sebagian be-sar telah dikonversi menjadi tambak dan empang.  Pada citra Ikonos tahun 2003, salt marsh dikenali dengan kenampakan pematang tam-bak/ empang.  Deliniasi dilakukan melalui cross check dengan peta topografi keluaran DITTOP TNI AD tahun 1993, di mana pada peta tersebut dikategorikan sebagai rawa bervegetasi bakau.
  1. Gosong merupakan daratan yang terbangun dari timbunan pecahan terumbu karang berupa pasir dan berada diatas permukaan laut saat pasang surut (Setiyono; 1996).  Gosong dikenali melalui keberadaan vegetasi (warna hijau dengan tekstur kasar) dan biasanya menyatu dengan pematang tambak/ empang.
  1. Tanggul pantai termasuk golongan wilayah endapan yang terbentuk oleh bahan endapan yang dibawa oleh air sungai, dengan proses pengendapan yang dibantu oleh laut dengan arah sejajar arah pantai (Sandy, 1985).  Pada umumnya tanggul pantai terdapat di daerah aluvial dataran rendah, di mana terdapat aliran sungai yang bermuara ke laut.  Bentuk endapan tanggul pantai umumnya digunakan untuk pengelompokan perkampungan.  Dalam mendeliniasi atau menentu-kan tanggul pantai, kenampakan yang menjadi acuan adalah terdapat-nya permukiman di atasnya, yang menunjukkan bahwa daerah terse-but lebih tinggi dari daerah di sekitarnya.  Tanggul pantai umumnya dikelilingi oleh persawahan, tambak ataupun empang.
  1. Jetty adalah bentukan hasil konstruksi buatan manusia yang berfungsi sebagai pemecah ombak dan mengurangi abrasi.  Kenampakannya mudah dikenali melalui bentukan berupa tanggul memanjang yang menjorok ke arah laut, yang terkadang diselingi dengan pasir yang meng-endap di salah satu sisinya.


D. Dijitasi wilayah rayapan gelombang tsunami (Peta 5) dilakukan dengan cara membandingkan kenampakan bangunan dan kondisi tanah (warna, rona, tekstur) pada citra Ikonos sebelum dan sesudah tsunami (2003 dan 2004).  Penarikan garis dilakukan pada batas rayapan tsunami, yaitu batas akhir pertemuan antara endapan lumpur dengan tanah normal. Endapan lumpur tsunami dikenali dengan warna coklat/ hitam dengan rona gelap bertekstur halus.

E. Setelah didapatkan wilayah rayapan gelombang tsunami, maka dilakukan dijitasi bangunan.  Bangunan yang di-dijitasi hanya sebatas yang berada di dalam wilayah rayapan gelombang tsunami (Peta 5).

F.   Plotting titik-titik pengambilan gambar pada peta (Peta 6) dan pada citra Ikonos untuk acuan interpretasi tingkat kerusakan bangunan.

G.  Analisa tingkat kerusakan bangunan dengan membandingkan kondisi bangunan yang nampak pada citra sebelum dan sesudah bencana. Acuan lain yang dipergunakan adalah titik-titik pemotretan seperti telah diutarakan terdahulu.  Tingkat kerusakan dibedakan atas jenis kerusakan yang dialami bangunan berdasarkan hasil modifikasi klasifikasi BAPPENAS (2005) sebagai berikut (Peta 7) : 
  1. Bangunan Rusak Total, bangunan hilang dan posisi awal bangunan tidak dapat dikenali lagi. 
  1. Bangunan Rusak Berat, bangunan tidak seluruh roboh, struktur ba-ngunan patah, miring, dengan kondisi rusak bercampur dengan puing. 
  1. Bangunan Rusak Ringan, bangunan masih berdiri, terdapat endapan lumpur sisa gelombang tsunami.


H.  Melakukan superimpose peta tingkat kerusakan dengan peta wilayah ketinggian dan unit-unit morfologi pantai untuk melakukan analisa deskriptif (Peta 8 dan 9).

I.    Membuat tabel luas tingkat kerusakan berdasarkan wilayah ketinggian dan unit morfologi pantai untuk melakukan analisa deskriptif.

J.   Membuat garis transek pada peta-peta hasil superimpose (Peta 8 dan 9) untuk membuat penampang melintang tingkat kerusakan bangunan ber-dasarkan wilayah ketinggian, unit-unit morfologi pantai dan jarak dari pantai (Gambar 4.1).  Penarikan garis dilakukan secara tegak lurus garis pantai ke arah daratan pada berbagai variasi morfologi dan wilayah ke-tinggian, serta pada jarak rayapan tsunami yang berbeda-beda.

1.4.4. Analisa

Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini bersifat deskriptif.  Analisa yang pertama dilakukan yaitu menguraikan kerusakan bangunan akibat tsu-nami berdasarkan tingkat kerusakannya.  Kemudian dilakukan pembahasan peta-peta hasil superimpose (Peta 8 dan 9) yang didukung dengan mengana-lisa tabel luasan tingkat kerusakan bangunan berdasarkan wilayah ketinggian dan geomorfologi pantai.  Pada setiap garis transek dibuat penampang melin-tangnya masing-masing untuk mendeskripsikan bagaimana tingkat kerusak-an bangunan berdasarkan wilayah ketinggian, morfologi pantai, dan jarak dari pantai.  Di sisi lain juga menelaah persamaan dan perbedaan tingkat keru-sakan pada suatu wilayah ketinggian dengan jarak yang berbeda-beda dari garis pantai, atau sebaliknya.

Melalui proses analisis ini diharapkan akan terungkap informasi me-ngenai asosiasi antara tingkat kerusakan bangunan akibat tsunami dengan variabel jarak, wilayah ketinggian dan morfologi pantai di Kota Banda Aceh. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg1yK5eNMBBW69DYAaeAu3u1kZ1-ASCWI9AaLgGGcPo4mj9LKGt0UaTme0HlcrPt_AKvbMwQ5cCFMsCu53rGics0Hjxu5Yhyphenhyphen0_79V5pC-0J9-TTKLqyNPcvN2lb86jjPrPpzC_HO6418YBy/s320/Tsunami.png

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiHKFMnacF9xOihtE7KObON8eulW_LrcCT8vzPfqeRw7pzYPxBQsXmdsfdDkZZCzxpD_NHbCTYDWXmxO3BqKx7S68HRwZSHhn41jHdz5KAzNT7jFe25FJQNgUM-4yVJRYF3JpqKfr-Paatt/s320/B.png






Referensi :



 

*Tya Lolita Vertika* Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos